PENURUNAN PUNCAK HYDROGRAF ALIRAN PERMUKAAN DENGAN TATA KELOLA LIMPASAN AIR HUJAN (RUNOFF) MELALUI OPTIMALKAN PROGRAM ANTAR KEMENTERIAN/LEMBAGA (WHOLE OF GOVERNMENT) PADA DAS HULU

A. Hasanudin

Sari


Banjir adalah gejala alam yang bisa terjadi dimana saja, apabila banjir menunjukan kecenderungan naik, kualitas maupun kuantitasnya setiap tahun, maka perlu diteliti kemungkinan adanya peningkatan dan penambahan aliran permukaan. Berdasarkan data monitoring debit aliran sungai Ciliwung, yang tercatat di bendung Katulampah, debit aliran maksimum tahunan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Peningkatan aliran permukaan maksimum adalah naiknya nilai satuan debit puncak dan volume aliran yang tercatat pada ketinggian muka air di station stafgate Katulampah, sebagai indikator adanya perubahan tata guna lahan dan kondisi permukaan tanah di DAS hulu. Kondisi ini sejalan dengan perubahan debit aliran sungai Ciliwung, yang cenderung aliran maksimum tahunan naik 2,4%, aliran minimum dan rata-rata bulanan turun masing-masing 2,9% dan 2,0%, kondisi ini dapat merubah pola aliran sungai Ciliwung. Penelitian ini menganalisa hubungan antara tingginya hujan dengan satuan limpasan air hujan, yang didasarkan pada perubahan tata guna lahan dan kondisi permukaan tanah, dengan Model Answers. Penelitian dilakukan pada DAS hulu sungai Ciliwung. Rekayasa mekanisasi dilakukan dengan pembangunan waduk, pembangunan checkdam di aliran permukaan dam. Kedua Rekayasa mekanisasi dan vegetasi dapat menurunan satuan limpasan air hujan (runoff) yang berimplikasi terhadap debit aliran menjadi turun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila dilakukan rekayasa mekanisasi maupun vegetasi terhadap persentasi luasan DAS hulu, akan menghasilkan perubahan aliran sbb ; dilakukan masing-masing 5% akan menurunkan runoff sebesar 7,67% (-0.07). Apabila rekayasa mekanisasi dan vegetasi dinaikkan menjadi 10% maka akan menurunkan runoff sebesar 11,50% (-0.11). Begitu pula jika rekayasa mekanisasi dan rekayasa vegetasi dinaikkan kembali menjadi 20% maka runoff akan semakin menurunkan yaitu sebesar 16,13% (-0.16).

Kata Kunci


Rekayasa, Mekanisasi, RunOff, DAS, Model Answer

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Hasanudin., A. (2004). Pengaruh Tata Guna Lahan dan Kondisi Permukaan Tanah Terhadap Aliran Permukaan Menggunakan Model Parameter Terdistribusi (Studi KAsus DAS Ciliwung Hulu)”. Bandung: Disertasi Program Pasca Sarjana Universitas Katolik Parahyangan.

Ariyona, Budisusanto & Prasasti. (2015). Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh dan SIG untuk Analisa Banjir (Studi Kasus: Banjir Provinsi DKI Jakarta). Surabaya : Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan ITS.

Budiastuti, MTh. Sri. (2009). Hidrologi Tapak Lahan: Perubahan Tutupan Lahan dan Tingkat Resapan Air. Jurnal Ilmiah Ilmu Tanah dan Agroklimatologi “Sains Tanah”

Chay Asdak. (1995). Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Harsono, B. (2013). Mengulas Penyebab Banjir di Wilayah DKI Jakarta dari Sudut Pandang Geologi, Geomorfologi dan Morfologi dan Morfologi Sungai.

Latuamury Bokiraiya, Totok Gunawan & Slamet Suprayogi. (2012). Pengaruh Kerapatan Vegetasi Penutup Lahan terhadap Karakteristik Resesi Hidrograf pada beberapa SubDAS di Provinsi Jawa Tengah dan Propinsi DIY. Majalah Geogragi Indonesia 26(2), September 2012.

Umbu K. Ngaji, Alfred. Pengaruh Perubahan Tutupan Lahan Terhadap Kondisi Hidrologis Kawasan Daerah Aliran Sungai Talau. Jurnal Partner Tahun 16 No 1.

https://jabar.idntimes.com/news/indonesia/aldzah-fatimah-aditya/ini-3-faktor-penyebab-banjir-bandang-yang-luluhlantakkan-masamba-regional-jabar/4


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


pISNN : 2355 - 701X

eISNN : 2540 - 8389

Creative Commons License This journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License

Flag Counter