Komentar Pembaca

Berita kota Palopo dan Luwu Raya

oleh a Asd aa (2020-01-16)

MeresponTrik Komputer

Dalam catatan gubernur Sulawesi 1888, DF Van Braam Morris, pada waktu itu di Palopo ada sekitar 21 desa dengan jumlah bangunan rumah sebanyak 507 buah. Di era itu, Tappong menjadi daerah yang paling diisi dengan 100 rumah, maka Ponjalae Amassangan 70 rumah dan 60 rumah. Palopo total penduduk kemudian diperkirakan sebanyak 10.140 jiwa.

Jumlah ini tidak termasuk penduduk daerah Libukang Pulau yang mencapai 400 orang. Dua puluh satu desa adalah: Tappong, Mangarabombang, Ponjalae, Campae, bonee, Parumpange, Amassangan, Surutanga, Pajalesang, Bola Sadae, Batupasi, Benturu, Tompotikka, Warue, Songka, Penggoli, Luminda, Kampungberu, Balandai, Ladiadia dan Rampoang.

Dari catatan Morris, kesimpulan sederhana dapat ditarik bahwa itu memang Palopo sudah menunjukkan ciri masyarakat urban. Hal itu ditandai dengan konsentrasi penduduk lebih intensif dibandingkan daerah lain di wilayah Kerajaan Luwu. Menurut M. Irfan Mahmud, masyarakat Toraja dan Luwu mulai menghuni utara bagian Palopo untuk menempati tanah bekas kuburan di Luminda setengah sawah sebagai kelanjutan dari pemukiman di tepi Sungai Boting.

Kedatangan atau Toraja dan Luwu masyarakat migrasi bagian utara ini tentu saja didorong oleh harapan. Bagi mereka, selain menjadi dukungan untuk pertahanan militer Kerajaan Luwu, Palopo juga dianggap lebih menjanjikan pada kehidupan yang lebih baik kepada mereka.

Karakteristik masyarakat perkotaan dikonfirmasi lagi oleh pembentukan infrastruktur di masa kolonial. Belanda mulai membangun Palopo pada tahun 1920. Oleh pemerintah kolonial, kerajaan persegi dan rumah kantor pasar dibanguni karyawan Belanda. Datu Luwu istana terbuat dari kayu dirombak dan diganti dengan arsitektur Eropa. sekolah juga didirikan, barak militer, rumah sakit dan gereja-gereja di sisi barat istana.

Berita kota Palopo dan Luwu Raya - Selain itu, pembangunan pelabuhan dan gudang di bagian timur merangsang pertumbuhan permukiman baru. Banyak lahan basah pesisir dikonversi ke pemukiman. Demikian pula, di barat, di mana sawah mulai diubah menjadi pemukiman. Daerah ini termasuk Sempowae, Dangerakko, Pajalesang dan Boting.